KunoKini Rayakan Satu Dekade dengan Pentas Musik dan Pemutaran Dokumenter

E-mail Print PDF
KunoKini (Foto: Dok. Pribadi)

Jakarta, Gigsplay - Menyambut hari jadi yang ke-10, 29 Mei mendatang kolektif KunoKini bakal menyelenggarakan acara Back to the Roots di My Mate Café & Entertainment, Bintaro, Jakarta Selatan.

Gelaran yang rencananya dimulai pada pukul 7 malam ini akan menampilkan pentas musik kolaborasi bersama Ras Muhamad, Leonardo, dan Mata Jiwa, serta pemutaran video dokumenter KunoKini.

Menurut siaran pers yang diterima Gigsplay, di usia satu dekade, unit yang beranggotakan Bhismo dan Bebi, serta musisi tambahan, Fadil, ingin merayakannya di negeri musikalitas mereka berasal, yaitu Indonesia.

Acara peringatan 10 Tahun KunoKini diproyeksikan mampu memantapkan eksistensi dalam bermusik dan mengusung nasionalisme lewat kreativitas dan harmonisasi musik.

Grup yang telah berkunjung ke Jerman, Belanda, dan Australia ini pun merencanakan perjalanan keliling Indonesia demi menebar ‘virus’ bermusik lewat berbagai program workshop, klinik, dan kolaborasi pertunjukan dengan berbagai komunitas budaya dan sosial.

“Ulang tahun ke-10 ini ingin kami rayakan untuk menandai dimulainya penyebaran virus KunoKini lebih masif daripada sebelumnya, yang artinya setelah 10 tahun, kami ingin merangkul lebih banyak sesama anak muda untuk, kalau sebelumnya belum sempat, menengok lagi kebudayaan Indonesia yang penuh makna, lewat bermusik,” tutur Bebi.

KunoKini dikenal dengan signature sound yang mengoptimalkan berbagai alat musik Indonesia seiring dengan keberanian mereka untuk mengikuti globalisasi, menempatkan alat-alat tradisional untuk tetap segaris dengan alat-alat musik yang ada, sehingga akhirnya alat musik Indonesia menjadi alat konvensional yang mudah digunakan oleh orang banyak dengan tujuan akhir menduniakan alat-alat musik Indonesia.

“Kami berusaha out of the box dan keluar dari pattern yang ada, tapi kami tidak melupakan dasar-dasar dari alat-alat tradisional itu. Makanya kami menyebutnya ‘modernisasi yang berbudaya, yaitu revolusi budaya’, supaya kami dan masyarakat selalu ingat asal dan usul alat-alat tersebut,” tandas Bebi.

KunoKini terbentuk secara spontan saat Bebi dan Bhismo, dua sahabat yang berkuliah di Universitas Paramadina di tahun 2003 mendapat undangan berpartisipasi dalam acara Folklore Festival di Jerman. Di bawah bimbingan Said, seorang Guru Tari dan Musik, mereka diikutsertakan dalam kursus pendek selama 3 bulan untuk belajar musik dan tari. KunoKini merupakan penggabungan dua kata yang sangat kontras. “Kuno” berarti tradisional dan “Kini” mewakili jaman sekarang yang sangat mewakili musik maupun filosofinya.

Sumber

Last Updated on Sunday, 26 May 2013 10:00