DRS SPECIAL INTERVIEW : KUNOKINI

E-mail Print PDF

Jakarta, Death Rock Star - Mempertahankan konsistensi selama satu dekade dalam suatu band/grup musik, memang bukanlah hal yang bisa kita anggap remeh. Ini terbukti dari perjalanan grup Indo Beat Ethnic Experimental asal ibukota, Kunokini, yang masih memegang teguh misi untuk menyebarkan virus budaya lewat musikalitas mereka. Tentunya menular dengan dosis tinggi ke ranah musik Indonesia.

Bertemu di kafe kawasan Jakarta-Selatan, saya bertemu Bhismo dan Bebi (sebagai dua pilar di Kunokini), siap membeberkan kiat khusus untuk komitmen atas visi-misi yang mereka usung sampai sekarang, serta proses pembuatan film dokumenter bersama Simple Project Indonesia. Dan juga persiapan “Back To The Roots” sebagai suatu perayaan ulang tahun lewat pentas musik yang akan diselenggarakan pada 29 Mei 2013 di Mate Cafe & Entertainment, Bintaro.

Bisa diceritakan bagaimana proses penggarapan film dokumenter kalian bersama Simple Project Indonesia?

Bhismo : Jadi waktu itu ketemunya di Car Free Day, Senayan. Kebetulan kita sedang menggarap video juga disitu. Dan ternyata dari dulu mereka suka dengan Kunokini, serta berencana membuat film dokumenter (saling tuker nomor telepon lah disitu), selang 4 bulan lebih setelah melalui beberapa rapat, ya udah akhirnya jalan lah proses film dokumenter kita.

Bebi : Film dokumenter itu sengaja dibuat untuk suatu festival, namun karna kesibukan masing-masing akhirnya deadline festival tersebut lewat masa jangkanya. Dan orang-orang Simple Project Indonesia sendiri, sebenernya berkerja pada suatu korporat, tapi memiliki sisi idealisnya juga dan ingin berkarya lewat dokumenter itu.

Bhismo : Turut juga menyebarkan virus visi-misi atas kecintaan kita terhadap budaya Indonesia, kepada masyarakat sini lewat media (film dokumenter) yang mereka buat.

Berbicara soal virus, Sudah sampai sejauh mana kalian menyebarkan virus budaya lewat musik kalian sampai sekarang?

Bhismo : Sampai 2011 kita sudah sejauh Jerman dan Belanda. Sempat ke Australia juga. Tapi kita lagi concern menyebarkan ke daerah Indonesia itu sendiri sekaligus menjalankan program kita yang bernama ‘Beautiful Energy’. Beautiful Energy adalah suatu program untuk memberikan workshop ke sekolah-sekolah dasar tentang perkusi. Sebelumnya kita juga sering membuat workshop di studio alam, Depok, kepada anak-anak kurang mampu. Contohnya video klip kita bersama anak-anak Sekolah Taman, Balubur, Bandung menyanyikan “Hey Beb!”

Bebi : Tujuan workshop itu sebenernya, kita hanya ingin kedepannya musik tradisional menjadi kurikulum dasar di tiap-tiap sekolah. Harus kita racunin sejak kecil, soalnya kalau dibawah gua 2 atau 3 tahun udah telat. Jadi untuk selanjutnya mereka memilih, ingin memainkan alat musik modern atau tradisional. Atau, siapa tahu bisa berkreatifitas membaurkan intrumen musik modern dan tradisional negara sendiri lebih luas lagi. Pokoknya jangan sampai meninggalkan “akar” dimana mereka berasal.

Ada perubahan signifikan selama 10 tahun berlalu? Sepertinya terjadi perombakan tatanan personil.

Bhismo : Perubahan signifikan pasti ada yah, tahun lalu Akbar memutuskan untuk keluar dari Kunokini. Lalu masuk lah personil kita paling muda, Fadil. Dia itu dari kecil udah sudah berkecimpung di dunia kesenian Betawi. Jadi sedikit ada chemistry dan nyambung sama kita juga, lalu menggodok ulang dan berupaya untuk survive dengan formasi seperti ini. Jadi selama 10 Tahun cukup bersyukur juga sih, dari jatuh bangunnya hingga bereksplor lagi setelah masuknya personil baru.

Bebi : Perkembangan selama sepuluh tahun cukup banyak perubahan, namanya juga seleksi alam. Ya mudah-mudahan setelah masuknya Fadil ini bisa sampai mati. Kebetulan Fadil juga masih kecil, jadi bisa menjadi contoh kepada teman-teman seusianya.

Balik lagi perihal trailer film dokumenter. Kalian ingin sekali mengangkat budaya Indonesia mencapai permukaan tinggi lewat musik, hingga bisa diterima oleh masyarakat luas. Apakah kalian tetap komitmen seperti itu sampai sekarang? Atau ada penambahan dalam usia kalian yang ke-10?

Bebi : Penambahan sih banyak, menyadarkan masyarakat jangan terlalu jauh melihat sesuatu, lihatlah di sekeliling kalian atas kebudayaan mereka yang bisa bikin kalian bangga dan kaya. Dan instrumen-instrumen yang biasa kita gunakan bisa disama ratakan dengan alat musik konvensional lainnya.

Bhismo : Emang gak gampang untuk konsisten atas komitmen yang kita buat sekarang. Pertama, menjadi seniman saja sudah susah di negeri ini. Kedua, bidang yang dipilih musik, pilihan musikalitas disini tuh beragam, bangsa kita hanya bisa menengok kepada musik-musik yang diciptakan warga asing. Maksud gue apa yang bisa kita tampilkan beda untuk bersaing di ranah musik global? Kebudayaan kita sendiri kan? Itu lah kita memilih jalur ini dalam bermusik. Semoga gue sama Bebi bisa bernafas dan berusaha menyuarkan komitmen ini. Kasarnya “Gue susah dan miskin gara-gara Kunokini, Gue sukses memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia ya bersama Kunokini”.

Suguhan apa saja yang akan kalian berikan untuk “Back To The Roots KunoKini 10 tahun nanti?

Bhismo : Jadi menu-nya nanti ada penampilan dari sanggar tari Bali Legong, mereka akan kolaborasi bersama Undercover Brother (Dance Group Hip-Hop dari Papua). Lalu screening film dokumenternya “Beautiful Energy”, abis itu Kunokini peformance kolaborasi bersama Ras Muhamad, Leonardo dan Mata Jiwa.

Ada pesan yang ingin kalian sampaikan untuk muda/mudi yang masih malu mengapresiasikan budaya Indonesia?

Bhismo : Kalau menurut gua, kita itu harus “Dableg” (dalam konotasi positif) dan cara berpikir yang ‘out of the box’ dari jalan yang udah ada. Serta jangan terlalu banyak pemikiran. Jika kalian yakin bisa lakuin, yaudah lakuin aja.

Bebi : Kalau gue, kalian nggak usah ngeliat terlalu jauh budaya luar negeri. Lihat saja sekeliling kalian. Itu yang mesti kalian jaga. Jangan udah diambil negara lain baru kalian teriak. Pas udah ada di tangan, kalian masa bodoin. Budaya itu berkembang. Dan pasti balik lagi ke akarnya.

Sumber

Last Updated on Sunday, 26 May 2013 09:40